Posts

Perihal BAPER dan Pengakuan Manusia Yang Tidak Peka

Pamulang, 01 April 2017 BAPER sepertinya belakangan ini lumayan menjadi kata yang viral di seantero pergaulan baik dunia maya maupun nyata yahh? (ceilah bahasanya!) Baper atau bawa perasaan menurut hemat saya, dapat dimaknai sebagai perasaan super sensitif . Yah atau kalau mau paket yang super hemat lagi, yaa kurang lebih sih: apa-apa dimasukkan ke dalam hati . Jadi, orang yang baper ini aduhai selalu pakai hati. Ibaratnya benda, macam keramik, kesenggol sedikit bisa langsung wassalam deh. Segala macam tindak tanduk orang lain di sekitarnya, disangka kode ataupun sindiran. Yaaa, ngga salah juga sih cuma yaaa gimana ya kalau segala hal dimasukkan ke dalam hati. Kan kalau kamu lihat ada orang bawa bantal, belum tentu mereka mau tidur kan? Hmm..... Sementara, di sisi lain, ada juga nih yang berkebalikan dengan baper, yaitu Manusia Yang Tidak Peka. Makhluk-makhluk ini biasanya kebangetan cueknya. Mungkin orang melihatnya sebagai manusia yang tidak memiliki hati sama sekali. Padahal,...

Bro, Sis, Keluarga Kecilmu Bukan Trophy Kemenangan Loh...

Ciputat, 03 Maret 2017 Belakangan ini, entah karena usia saya yang memang sudah tergolong cukup matang untuk sebuah komitmen jangka panjang berjudul pernikahan, atau memang masyarakat seusia saya sungguhan sedang giat berlomba-lomba untuk menikah dan bereproduksi. Saya bukannya iri dengki karena sampai saat ini Alhamdulillah masih belum dikaruniai kekasih, tapi saya merasa masih banyak masyarakat kita ini yang memperlakukan suami/istri dan anak kandung sebagai sebuah trophy kemenangan yang perlu didapatkan sesegera mungkin. Lihat saja pertanyaan yang dilontarkan saat bertemu orang yang sudah lama tidak ditemui, umumnya langsung tanya: ‘sudah menikah belum? Sudah punya anak berapa?’ atau ‘sudah punya pacar? Kapan nih kirim undangan?’. Apakah pernikahan telah berubah menjadi sebuah tujuan hidup paling superior di dalam masyarakat kita? Seolah kaum yang sudah menikah adalah pemenang sejati kesuksesan hidup. Bahkan mereka yang sudah dipercayakan memelihara anak dapat dikatakan lebih s...

Tiga Kata Untuk Hidup Damai Selamanya: LET IT BE. (udah, nikmatin aja!)

Kayaknya udah lama banget saya ngga nulis apa-apa di sini. Biasa lah jadwal syuting padat merayap.. /halah Hmm. Yah sebetulnya banyak pemikiran seruntulan lewat-lewat di kepala sih. Mulai dari pengin pamer cerita tentang liburan ke negeri sakura, sampai pengin sok-sok ngomentarin penistaan agama, tapi, kemudian kayak: " ah, udahlah ngga usah dibahas lagi." gitu. Mungkin nanti kalo mood nya muncul lagi bakal saya bahas, meskipun jadi basi sih yah hahahaha. Tapi, serius deh. Pernah ngga sih kalian ngerasa kayak: "ah. udahlah biarin aja." setiap menghadapi momen dalam kehidupan? (tsaah bahasanya!) Soalnya, belakangan ini saya ngerasa kayak gitu. Ngga tahu apakah ini efek pendewasaan (ceilah!) atau memang udah capek aja menghadapi momen dengan over-reacted? Tapi kayaknya dua-duanya agak ngga mungkin sih hahaha. Soalnya saya masih bereaksi berlebihan terhadap rilisnya film animasi disney terbaru di bioskop (AKU MAU NONTON MOANA DONG PELISS!!!) /plaaaak. Oke...

29 FEBRUARI 2016

halooooo. saya lagi ngga punya ide untuk tulis sesuatu sih tapi seperti biasa, tanggal unik yang cuma bisa ketemu empat tahun sekali itu sungguh amat sayang jika dilewatkan. yaa berhubung ternyata masih ketemu sama Tahun Kabisat di 2016, jadi: SAMPAI JUMPA EMPAT TAHUN LAGI!

Kalau Jodoh Tak Lari Ke mana. Kalau Tak Ingin Berjodoh, Harus Lari Ke Mana??

Ciputat, 01 April 2015 Saya lagi kepikiran sebuah kata-kata terkenal sepanjang hayat: “Kalau jodoh, tak lari ke mana.” Kata-kata semacam itu mungkin terasa menghibur bagi orang yang kepincut setengah mati sama seseorang. Tapi, bagi orang-orang yang benci sepenuh hati sama orang-orang lainnya, kata-kata seperti itu berubah menjadi momok yang mengerikan. Konsep jodoh, takdir, dan lelucon kosmik, di hadapan orang-orang yang mendamba pasti bikin bahagia. Coba bayangkan, ada berapa juta orang di dunia yang sibuk berdoa untuk bertemu atau paling tidak sekadar berpapasan dengan seseorang dan berakhir dengan tidak mendapatkan apa-apa? Sementara ada orang lainnya yang tidak pernah melakukan hal serupa, bahkan mungkin berdoa hal sebaliknya namun berakhir dengan mendapatkan sebuah “kutukan”? Saya pernah baca buku tentang kekuatan pikiran yang mampu menjadi semacam magnet yang membuat semesta “menarik” apa yang kita pikirkan untuk mendekat. Masa iya pikira...

I S T R I I D A M A N

Ciputat, 06 Maret 2015 Selamat Hari Perempuan Internasional! *** I S T R I I D A M A N. Kadang saya ngerasa ngga adil sama keberadaan istilah “istri idaman”. Terutama sih ya karena saya masuk golongan yang jauh nya bagaikan langit dan bumi sama istilah “istri idaman” dalam pandangan umum masyarakat kita. Eh, maksudnya, masyarakat di sekitar saya. Eh, lebih tepatnya lagi di sekitar lingkungan kerja saya, yang justru menurut saya malah menggambarkan dengan jelas pandangan masyarakat pinggiran kota yang sesungguhnya. Di sekitar lingkungan kerja saya ini hampir semua menganggap perempuan dengan penampilan agamais,  jago dandan, jago masak, dan jago ngurus anak sebagai sosok “istri idaman”. Ngga ada tuh pemikiran bahwa ibu adalah guru pertama bagi seorang anak, yang menurut saya, sewajarnya memiliki “ilmu” lebih dari sekadar dandan, masak, dan ganti popok yang dapat dikuasai dengan mudah oleh seorang “bibik”. Apalagi dengan kemajuan ilmu pengetahuan yan...

"Sorekara, suki da yo. Therefore, i like you. Oleh karena itu, saya suka kamu."

Image
salah satu contoh hasil gambar saya dengan menggunakan cat air. baru belajar, belajar sendiri lewat video tutorial gratisan di youtube, masih beleberan haha. Ketika kita jatuh cinta pada sesuatu hal, seringnya sih, ngga peduli berapa banyak orang menentang, melarang, mencaci, dan segala hal jelek lainnya itu, kita bakal tetap jatuh cinta begitu saja pada hal tersebut ya. Kalo ujungnya ternyata hal itu malah bikin kita jadi maju, kita bisa pamer ke semua yang ngelarang. Tapi kalo ujungnya ternyata betulan buruk buat kita, ya paling kita malu sendiri dan orang-orang makin mojokkin kita. Kira-kira begitu kan ya? Setuju ngga? hehe. Jadi sebetulnya saya kepingin curhat dikit. Curhatnya lebih pas dibaca buat orang tua yang anaknya masih kecil-kecil, atau boleh juga dibaca oleh calon-calon orang tua. Intinya cuma: kalau anak anda tertarik akan sesuatu hal yang arahnya positif, jangan pernah ditentang, dilarang, apalagi dimatikan. Kasihan aja sih. Anak kan punya hidup sendiri. Anda ng...