Posts

Mukanya Mana, Sist?

Jombang, 17 Februari 2018 Hai. Hai. Hai. Gila ya pas ngelihat tanggal postingan terakhir tuh kayak: “ where have you been , Manusia Abu-abu?” Well , sok sibuk sama kehidupan IRL ( In Real Life ) sih kayaknya. Harap maklum hehe. Sebetulnya banyak yang mau saya bahas, tapi malas juga bahas yang berat berat di suasana long weekend kayak gini. Kartu kuning: skip. Perceraian Bapak Sipit: skip. Pilkada: skip. Pernikahan cincin 200 juta nyemplung di ancol: demi apapun ini menarik banget sebetulnya tapi apa ada saya ngga kuwat nulisnya, saya rasa kemampuan saya menguntai kata demi kata sulit menyaingi Om satu itu jadi dengan berat hati bahasan ini saya skip juga… hashtagHalah hashtagSakarepmu. Okay. Jadi hari ini saya mau bahas tentang foto aja. Sudah beberapa bulan belakangan ini, saya memang tak lagi memajang foto wajah di sosial media manapun (selain facebook sama path yang isinya orang orang kenal banget dan private banget). Bahkan di Instagram yang basisnya album foto do...

You Are WEREWOLF!

Image
Pamulang, 11 Mei 2017 Beberapa waktu lalu, saat liburan bersama sekumpulan teman lama di sebuah villa, saya memainkan sebuah permainan kartu yang menarik sekali. Menurut saya sih, lebih seru dibanding UNO yang sudah nge-hits lebih dulu. Mungkin kalian ada yang sudah pernah dengar nama permainannya? Sama seperti judul tulisan ini, nama permainannya: WEREWOLF. wooo awooooo.. terdengar seram gitu ya? haha. Tapi, mainan ini ngga ada adegan gigit-gigitan di antara pemainnya kok. Jadi, kalian ngga perlu khawatir. Cumaaaa, biarpun ngga ada adegan gigit-gigitan antar pemain, kayaknya kalo ada pemain yang couple -an sih yaaaa.. lumayan bikin greget gitu.. *ketawa jahad* Jadi, apa sih sebenarnya permainan WEREWOLF itu? Penjelasan lengkapnya bisa dilihat langsung di sini , tapi singkatnya menurut saya sih ini semacam main polisi-polisian. Dalam permainan, ada satu orang yang bertugas jadi moderator dan tidak memiliki peran langsung dalam permainan. Moderator ini ibarat 'Tuhan'-...

Perihal BAPER dan Pengakuan Manusia Yang Tidak Peka

Pamulang, 01 April 2017 BAPER sepertinya belakangan ini lumayan menjadi kata yang viral di seantero pergaulan baik dunia maya maupun nyata yahh? (ceilah bahasanya!) Baper atau bawa perasaan menurut hemat saya, dapat dimaknai sebagai perasaan super sensitif . Yah atau kalau mau paket yang super hemat lagi, yaa kurang lebih sih: apa-apa dimasukkan ke dalam hati . Jadi, orang yang baper ini aduhai selalu pakai hati. Ibaratnya benda, macam keramik, kesenggol sedikit bisa langsung wassalam deh. Segala macam tindak tanduk orang lain di sekitarnya, disangka kode ataupun sindiran. Yaaa, ngga salah juga sih cuma yaaa gimana ya kalau segala hal dimasukkan ke dalam hati. Kan kalau kamu lihat ada orang bawa bantal, belum tentu mereka mau tidur kan? Hmm..... Sementara, di sisi lain, ada juga nih yang berkebalikan dengan baper, yaitu Manusia Yang Tidak Peka. Makhluk-makhluk ini biasanya kebangetan cueknya. Mungkin orang melihatnya sebagai manusia yang tidak memiliki hati sama sekali. Padahal,...

Bro, Sis, Keluarga Kecilmu Bukan Trophy Kemenangan Loh...

Ciputat, 03 Maret 2017 Belakangan ini, entah karena usia saya yang memang sudah tergolong cukup matang untuk sebuah komitmen jangka panjang berjudul pernikahan, atau memang masyarakat seusia saya sungguhan sedang giat berlomba-lomba untuk menikah dan bereproduksi. Saya bukannya iri dengki karena sampai saat ini Alhamdulillah masih belum dikaruniai kekasih, tapi saya merasa masih banyak masyarakat kita ini yang memperlakukan suami/istri dan anak kandung sebagai sebuah trophy kemenangan yang perlu didapatkan sesegera mungkin. Lihat saja pertanyaan yang dilontarkan saat bertemu orang yang sudah lama tidak ditemui, umumnya langsung tanya: ‘sudah menikah belum? Sudah punya anak berapa?’ atau ‘sudah punya pacar? Kapan nih kirim undangan?’. Apakah pernikahan telah berubah menjadi sebuah tujuan hidup paling superior di dalam masyarakat kita? Seolah kaum yang sudah menikah adalah pemenang sejati kesuksesan hidup. Bahkan mereka yang sudah dipercayakan memelihara anak dapat dikatakan lebih s...

Tiga Kata Untuk Hidup Damai Selamanya: LET IT BE. (udah, nikmatin aja!)

Kayaknya udah lama banget saya ngga nulis apa-apa di sini. Biasa lah jadwal syuting padat merayap.. /halah Hmm. Yah sebetulnya banyak pemikiran seruntulan lewat-lewat di kepala sih. Mulai dari pengin pamer cerita tentang liburan ke negeri sakura, sampai pengin sok-sok ngomentarin penistaan agama, tapi, kemudian kayak: " ah, udahlah ngga usah dibahas lagi." gitu. Mungkin nanti kalo mood nya muncul lagi bakal saya bahas, meskipun jadi basi sih yah hahahaha. Tapi, serius deh. Pernah ngga sih kalian ngerasa kayak: "ah. udahlah biarin aja." setiap menghadapi momen dalam kehidupan? (tsaah bahasanya!) Soalnya, belakangan ini saya ngerasa kayak gitu. Ngga tahu apakah ini efek pendewasaan (ceilah!) atau memang udah capek aja menghadapi momen dengan over-reacted? Tapi kayaknya dua-duanya agak ngga mungkin sih hahaha. Soalnya saya masih bereaksi berlebihan terhadap rilisnya film animasi disney terbaru di bioskop (AKU MAU NONTON MOANA DONG PELISS!!!) /plaaaak. Oke...

29 FEBRUARI 2016

halooooo. saya lagi ngga punya ide untuk tulis sesuatu sih tapi seperti biasa, tanggal unik yang cuma bisa ketemu empat tahun sekali itu sungguh amat sayang jika dilewatkan. yaa berhubung ternyata masih ketemu sama Tahun Kabisat di 2016, jadi: SAMPAI JUMPA EMPAT TAHUN LAGI!

Kalau Jodoh Tak Lari Ke mana. Kalau Tak Ingin Berjodoh, Harus Lari Ke Mana??

Ciputat, 01 April 2015 Saya lagi kepikiran sebuah kata-kata terkenal sepanjang hayat: “Kalau jodoh, tak lari ke mana.” Kata-kata semacam itu mungkin terasa menghibur bagi orang yang kepincut setengah mati sama seseorang. Tapi, bagi orang-orang yang benci sepenuh hati sama orang-orang lainnya, kata-kata seperti itu berubah menjadi momok yang mengerikan. Konsep jodoh, takdir, dan lelucon kosmik, di hadapan orang-orang yang mendamba pasti bikin bahagia. Coba bayangkan, ada berapa juta orang di dunia yang sibuk berdoa untuk bertemu atau paling tidak sekadar berpapasan dengan seseorang dan berakhir dengan tidak mendapatkan apa-apa? Sementara ada orang lainnya yang tidak pernah melakukan hal serupa, bahkan mungkin berdoa hal sebaliknya namun berakhir dengan mendapatkan sebuah “kutukan”? Saya pernah baca buku tentang kekuatan pikiran yang mampu menjadi semacam magnet yang membuat semesta “menarik” apa yang kita pikirkan untuk mendekat. Masa iya pikira...